Lima Cara Menyapih Anak Secara Alami


“Say, bagi tips menyapih anak dong. Awan dulu disapih khan pas hamil Nasita?”, tanya salah satu teman sekolah via WA. Saya otomatis nyengir saat membaca pesan tersebut. Meskipun menyandang predikat ibu dari dua orang balita, saya masih NOL besar untuk pengetahuan sapih menyapih, apalagi cara menyapih anak agar tidak rewel. Memang saat hamil Nasita, si kakak Awan baru berusia 1,5 tahun. Namun Awan sudah tidak menyusu jauh sebelum saya hamil Nasita. Awan sudah berhenti menyusu sejak usia 8 bulan. Tanpa paksaan dan tanpa drama. Justru saya yang “drama” ketika Awan berhenti menyusu. Pasalnya saya masih berkeinginan untuk menyusui. Terlebih  ada kampanye yang gencar tentang menyusui dengan predikat lulus S1, S2 sampai S3. Seorang anak dikatakan lulus S3 kalau bisa mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun. Perasaan bersalah dan tidak becus menyusui anak sempat menghantui saat itu. Beberapa kali juga saya mendapat pendapat negatif ketika tahu Awan sudah tidak menyusu padahal belum genap satu tahun. Termasuk teman saya yang bertanya via WA tersebut.

Proses Sapih Awan (( dengan cara menyapih anak secara alami ))

Awan lahir dengan persalinan normal yang membuat saya sudah kembali beraktivitas secara normal H+1. Belum puas menikmati euphoria sebagai seorang ibu yang ingin mengasuh anak dengan tangan sendiri, kedua orang tua saya sudah mewanti-wanti untuk segera mencari pekerjaan. Status saya sebagai freelance dengan kemampuan menulis dianggap tidak cukup untuk menjamin masa depan anak semata wayang saya. Saya mencoba nego bahwa saya akan mencari pekerjaan setelah Awan usia 6 bulan, minimal bisa lulus S1 alias ASI eksklusif selama 6 bulan. Orang tua pun mengiyakan meski setiap hari saya harus mendengar ceramah tentang pentingnya segera mencari pekerjaan. Terlebih saya mengantongi ijazah S1.

Masa enam bulan menyusui Awan secara eksklusif terpenuhi. Tepat 6 bulan 1 hari, ibu sudah menyiapkan sekotak susu formula berikut perlengkapannya. Bahkan ibu rela berangkat kerja jalan kaki ke tempat kerja yang berada di dukuh sebelah supaya saya bisa menggunakan motor untuk melamar pekerjaan. Sebanding dengan persiapan ibu, saya pun sudah menyiapkan beberapa botol ASIP dan pompa ASI untuk menyiapkan ASIP yang bisa diminum Awan saat saya bekerja. Tidak butuh waktu lama bagi saya memperoleh pekerjaan meski harus ke kota sebelah. Stok ASIP mencukupi setiap harinya. Saya pun dengan tenang meninggalkan Awan tanpa takut kebutuhan ASI akan kurang meski saya bekerja.

Lokasi tempat kerja yang menuntut saya berangkat jam 6 pagi dan sampai dirumah paling cepat jam 6 sore membuat saya hanya bisa menyusui Awan langsung saat Awan terbangun di malam hari dan dini hari. Bayi Awan tipikal bayi yang tenang. Jarang sekali menyusu di malam hari. Lama kelamaan bahkan Awan tak lagi menyusu di malam hari. Puncaknya ketika saya libur dan Awan tidak berniat menyusu meski sedari pagi dalam gendongan saya. Saya kebingungan. Saya mencoba memaksa Al menyusu karena saat itu posisi payudara juga sudah membengkak penuh ASI. Awan menangis hingga mengundang perhatian kakek neneknya. “Sudah, sudah tidak perlu dipaksa. Awan sudah terbiasa minum susu pakai dot”, ujar si nenek. “Lagipula sudah lama dia tidak minum ASI. Paling Awan sudah tidak suka.”

Ucapan si nenek membuat saya terkejut. Ternyata ASIP yang selalu saya siapkan tidak pernah diberikan pada Awan . Ibu saya takut ASIP tidak higienis dan membahayakan cucunya. Maklum ibu saya belum mengenal ASIP sebelumnya. Jadi meski saya sudah memberikan edukasi ternyata itu belum cukup menyakinkan ibu. Ibu beranggapan bahwa tidak masalah anak minum sufor karena keempat anak ibu memang tidak full ASI mengingat ibu adalah ibu bekerja dan tidak pernah mengenal teknologi penyimpanan ASIP di jamannya menyusui. Tak pelak betapa kecewanya saya saat itu. Saya pun hanya bisa melampiaskan kekecewaan saya pada orang tua dengan berhenti bekerja keesokan harinya untuk bisa kembali merawat Awan meski tak lagi bisa menyusui.

Proses Menyapih Nasita (( cara menyapih anak dengan cinta ))

Nasita lahir ketika kondisi finasial saya sudah mulai dianggap mapan oleh kedua orang tua meski masih berstatus freelance. Oleh karenanya tak ada lagi drama saya harus meninggalkan anak untuk bekerja diluar rumah. Otomatis saya bisa menyusui Nasita hingga dua tahun.

Intensitas Nasita menyusui jauh berbeda dengan kakaknya. Awan cenderung menyusui sekali dua kali hingga kenyang lalu lebih banyak tidur. Sedangkan Nasita tipikal bayi yang suka “ngempeng”. Selain frekuensi menyusui yang luar biasa, waktu menyusui pun lebih lama. Bahkan Nasita akan terbangun ketika saya melepas payudara dari mulutnya.

Memasuki usia 1 tahun 9 bulan, saya sudah mulai sounding Nasita bahwa sudah saatnya berhenti menyusu ketika umur dua tahun. Saya selalu sampaikan bahwa ketika usia 2 tahun, Nasita sudah sudah bukan bayi melainkan sudah anak-anak. Jadi sudah tidak menyusu. Malu sama adek-adek bayi. Respon Nasita pun mengangguk-angguk lucu seolah memahami. Saya jadi percaya diri dan yakin bahwa Nasita akan mudah disapih ketika saatnya tiba.

Tepat di usia dua tahun, saya mulai menyapih Nasita . Hasilnya benar-benar diluar dugaan. Sepanjang pagi siang hingga malam Nasita menangis. Nasita terus meminta perhatian saya. Kakek, nenek, ayah bahkan saudara sepupu tak mampu mengalihkan perhatiannya. Pertahanan saya jebol keesokan paginya. Semalam berjaga membuat saya kelelahan lalu menyerah untuk menyodorkan payudara lalu terlelap bersama Nasita .

Suami lalu bercerita tentang temannya yang sering diminta bantuan untuk menyapih. Meski harus jauh-jauh ke Magelang dari Klaten pun saya sambangi. Saya pulang membawa bekal nasi putih untuk dimakan Sita dan kapur sirih dan kunyit untuk dioleskan di payudara. Sita hanya mau makan nasih putih dua suap dan olesan kunyit campur kapur sirih tak membuat Nasita gentar untuk menyusu.

Ketika mendatangi dukun pijat langganan Nasita , saya pun bercerita tentang perjuangan saya menyapih Nasita . Kali ini saya dibekali buah mahoni. Konon buah ini jika dioleskan ke payudara akan memberika rasa pahit yang membuat jera untuk menyusu. Malam harinya saya oleskan buah mahoni yang berwarna putih. Iseng saya menjilatnya dan hueeeek … pahit! Ada rasa optimis akan berhasil menyapih. Sayangnya, meski berhasil membuat Nasita muntah-muntah efek rasa pahit ketika menyusu ternyata tidak serta merta membuat Nasita kapok.

Saya pun menyerah untuk menyapih Nasita . Terlebih ketika ibu bilang bahwa dulu si adik bungsu saya juga menyusu hingga usia 3,5 tahun karena ibu tidak tega menyapih. Takdir seolah berkata bahwa saya juga harus menyusui hingga Nasita berhenti dengan sendirinya. Parahnya saya mengamini dan proses menyusu Nasita berlanjut. Hingga tak terhitung berapa banyak saran yang saya terima demi bisa menyapih Nasita .

Saat libur lebaran, saya berada dirumah bapak ibu. Sejak sore Nasita bermain dengan kakek hingga kemudian digiring kakek untuk masuk kamar. Entah apa yang dilakukan si kakek hingga tak lagi terdengar suara Nasita . Si kakek keluar dari kamar sembari berucap, “Sudah bisa tidur tanpa menyusu bukan? Coba disapih lagi besok”. Saya pun menganguk-angguk antara siap tidak siap untuk kembali menyapih.

Nasita masih menyusu hingga saya kembali ke rumah Magelang. Semalaman Nasita tidur tanpa lepas menyusu. Tiba-tiba muncul rasa lelah dan bosan menyusui Nasita hingga usianya 2,5 tahun. Spontan saya bilang akan menyapih Nasita pada suami hari itu juga. Beruntung suami lalu memutuskan untuk siap siaga dirumah untuk membantu.

Perjuangan dimulai ketika sekitar jam 8 Nasita ingat untuk menyusu. Saya berusaha mengalihkannya dengan menggendong lalu mengajaknya keluar rumah sambil membawa susu UHT. Nasita lupa akan keinginan menyusu lalu bermain bersama anak-anak sekomplek. Jelang dhuhur Nasita kembali rewel. Kembali saya menggendongnya dan berakhir saya diamkan dikamar sambil saya pura-pura tidur. Suara tangis Nasita  merendah dan ajaib, Nasita tertidur. Sore ketika bangun kembali Nasita memulai drama. Lagi lagi saya menggendongnya dan mengalihkan perhatiannya. Demikian seterusnya hingga malam Nasita tertidur bersama si ayah. Alhamdulillah, cara menyapih anak agar tidak rewel ini berhasil.

Proses menyapih anak dengan cinta berlangsung hingga 3 hari kedepan. Selama proses menyapih, saya tidak berani tiduran meski untuk sekedar rehat karena takut akan mengundang Nasita untuk menyusu. Sungguh luar biasa lelahnya. Namun kali ini usaha saya tidak sia-sia. Mulai hari ketiga, ketika siang hari Nasita lebih sering tertidur dengan sendirinya ketika saya tinggal beraktivitas. Malam harinya, saya mengkondisikan Nasita untuk siap tidur usai cuci muka, tangan, kaki dan mengajaknya masuk kamar. Kamar posisi saya kunci dan bebas mainan. Lampu kamar saya ganti dengan lampu tidur lalu saya ambil posisi tidur. Biasanya tidak lama kemudian Nasita akan menyusul tidur. Beruntung saya tidak harus konser nina bobok untuk membuai Nasita . Mungkin Nasita sadar suara ibunya tak mirip dengan Rossa yang katanya berwajah mirip dengan ibunya, hahaha

Tips Menyapih Anak yang Efektif

Ini bukanlah tips dari seorang ahli, melainkan hanya tips dari seorang ibu yang baru sekali berhasil menyapih putri kesayangannya. Beberapa hal yang harus dipersiapkan adalah:

  1. Mental ibu, sesungguhnya mental ibu lah yang harus siap terlebih dahulu. Karena jika tidak siap maka ibu akan dengan mudah kembali menyodorkan senjatanya jika si anak mulai rewel. Mental ibu juga sudah harus siap dengan kemungkinan payudara sakit saat menyapih.
  2. Bantuan dari orang terdekat. Bantuan suami sungguh sangat berarti bagi saya ketika menyapih Nasita . Meski suami tak berhasil memantu mengalihkan perhatian Nasita , namun kemauan suami untuk mengambil alih pekerjaan rumah, memberikan semangat dan pijatan ringan sungguh menguatkan saya.
  3. Siapkan asupan makanan dan minuman yang cukup. Saya menyediakan anggaran lebih untuk susu UHT dan cemilan untuk Nasita . Saat proses menyapih dan sesudahnya, nafsu makan Nasita meningkat hingga 3 kali lipat. Bahkan ketika terbangun dimalam hari, Nasita kadang meminta makan meski hanya sesuap dua suap.
  4. Beri aktivitas yang menguras energi anak. Rasa lelah membuat anak bisa gampang tertidur ketika siang maupun malam hari. Meski dengan demikian si ibu juga harus menyiapkan energi lebih namun ketika anak tertidur, si ibu juga bisa rehat sejenak. Nasita tipikal anak yang suka bergerak jadi saya lebih sering mengajaknya keluar rumah dan memberikan aktivitas motorik seperti lari-lari, mengangkat dan mendorong mainan.
  5. Pahami perlakuan khusus yang disukai anak. Nasita sangat suka digendong dan tidur di dada ibunya. Oleh karenanya ketika dia mulai rewel ketika mulai disapih, saya menggendongnya beberapa saat. Hal tersebut ternyata mampu untuk menghilangkan perasaan diabaikan karena tidak boleh menyusu. Raut wajah Nasita menunjukkan rasa nyaman seperti halnya saat menyusui ketika saya gendong.

Itulah cerita dibalik proses menyapih Nasita dan juga sedikit tips menyusui. Panjang juga ternyata ya, hehe Semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang akan menyapih da jangan lupa bagikan pengalaman menyapih ibu-ibu yaa…

4 Komentar

  1. Makasih mb sharing nya..3 bulan lagi saya mau nyapih ni mb, udah deg degan dari sekarang..semoga lancar nantinya, Aamiin

    BalasHapus
  2. Duuh sedihnya Al ..kebayang stok ASIP dibuang sunggung menyesakkan dada. Tp memang nyapih tu perjuangan bgt ga cuma baby tp emakpun sering melow

    BalasHapus
  3. Saya komen y mb...
    Kalau saya dulu jauuuuh jauuuh hari sudah ditrainning untuk tdk menyusu..
    1. Tidak lg menidurkan anak dengan disusui.
    2. Mulai untuk memberi susu formula atau uht.
    3. Mengurangi frekuensi menyusui dengan selalu diberikan minuman yang lain.
    4. Mulai membiasakan tidak meyusui di siang hari.
    5. Dan jangan lupa selalu anak diberi input besok sekian hari lg sudah tidak minum asi lagi.
    6. Jika belum berhasil boleh juga pakai cara lama. Dengan mahoni. Tapi usahakan hindari melarang anak menyusu. Cukup diwanti2 nanti kalau asi sudah "heek" ndak usah diminum ya. Biasanya anak rewelnya bingung mau ngapain, krn pgn cari ayem dg menyusu tp si anak sndri sdh g mau menyusu

    Sekedar sharing aja sh..smg msh bs brmnfaat

    BalasHapus