5 Pelajaran Berharga Tentang Perlindungan Anak Berdasarkan Film Pihu


Bagaimana jadinya jika seorang balita berusia 2 tahun terkunci di dalam rumah bersama ibunya yang sudah meninggal dengan kondisi rumah berantakan dan alat elektronik yang masih menyala tersambung listrik semacam setrika? Sejak melihat trailer film PIHU saja saya sudah harus menahan nafas, menangis tersedu-sedu dan bergidik ngeri.

Adalah Puja, seorang ibu satu anak yang baru saja mengalami pertengkaran dengan si suami. Terlontar pernyataan dari suami bahwa ia tak peduli istrinya hidup atau mati. Jiwa Puja terguncang hingga ia berfikir memang lebih baik dia mati dan memutuskan bunuh diri dengan meminum obat. Ia sempat meninggalkan pesan pada Gaurav, si suami melalui coretan lipstick di cermin meja rias, semacam surat pamit bahwa ia memilih untuk mati namun tak kuasa untuk membunuh si anak, PIHU yang diceritakan baru berusia dua tahun. Akhirnya, si Gaurav yang sedang keluar kota tidak tahu bahwa Puja sudah mati dengan meninggalkan anak seorang diri dalam keadaan rumah terkunci dan berantakan pasca pesta ulang tahun PIHU.

Film berdurasi 1 jam 30 menit ini berisi adegan bagaimana PIHU bisa bertahan dua hari tanpa pengasuhan orang tua. Tentu saja, Pihu belum tahu jika sang ibu meninggal. Ibu tidur, jawab Pihu ketika papanya menelfon. Beragam kejadian ekstrem seperti memanjat balkon dimana rumah Pihu terletak di apartemen lantai 33, memanaskan makanan dengan microwave bersuhu tinggi, cek setrika yang ditinggalkan papanya dalam keadaan masih teraliri listrik hingga akhirnya jarinya terkena panas dan lain-lain. Sungguh, nasib anak malang yang konon film ini berdasarkan kisah nyata.

Dari adegan demi adegan yang membuat jantung berdegup kencang, ada beberapa hal terkait perlindungan anak yang dapat dijadikan pelajaran, diantaranya:

1. Pastikan alat-alat elektronik dan akses listrik tidak terjangkau anak-anak. 
Setrika yang masih menyala, lampu warna-warni yang bergelantungan dimana-mana berikut microve yang bisa dijangkau anak adalah peringatan bagi kita yang memiliki alat elektronik agar bisa waspada. Di akhir film, setrika akhirnya meledak dan menghanguskan sebagian dinding kamar.


2. Pastikan keran air dalam keadaan tidak menyala. 
Alkisah keran air di tempat pencucian piring masih menyala dan mengakibatkan air tumpah ke lantai. Hal ini menyebabkan lantai licin dan anak mudah tergelincir.

3. Kurangi jumlah benda pecah belah ketika memiliki balita. 
Pihu lapar dan berinisiatif membuka kulkas yang memberinya ide untuk bersembunyi di dalamnya. Ketika dia berhasil masuk dan kulkas menutup dengan sempurna, Pihu berusaha mendorong pintu agar terbuka ketika ia sudah merasa kedinginan. Botol-botol kaca yang diletakkan diatas kulkas berjatuhan dan akhirnya pecah. Pecahan kaca tentu berbahaya bagi anak-anak.

4. Interior rumah yang menjadi perhatian adalah tangga dan pagar balkon jika memiliki rumah dengan lantai lebih dari satu. 
Dalam film digambarkan tangga rumah sudah aman dengan kriteria lebar tangga yang pas dan tidak curam. Namun yang menjadi sorotan adalah pagar balkon yang mudah dipanjant dan dijangkau anak. Perutku mulas ketika Pihu memanjat pagar balkon dengan mudah dan membuat tubuhnya bersandar pada ujung pagar. Sedikit saja kakinya terpeleset, entah bagaimana jadinya.

5. Kepedulian terhadap tetangga.
Ada dua kejadian yang menurutku adalah cerminan apatisnya masyarakat terhadap tetangga dan anak-anak. Ketika Pihu terlihat memanjat pagar balkon, tetangga hanya memperingatkan tanpa cek kondisi anak. Di saat yang lain, ketika penjaga yang memperingatkan untuk cek kondisi listrik hanya sibu berteriak mengomel tanpa bertindak lebih lanjut. Baru ketika di akhir film, ada tetangga yang berinisiatif untuk cek kondisi ketika air keran mulai tumbah dan membanjiri lantai hingga keluar rumah. Itupun ada dialog si tetangga perempuan yang gemas dengan sikap lambat para tetangga lekakinya.

Pihu bisa diselamatkan ketika akhirnya si ayah pulang. Ia ditemukan tengah bermain rumah-rumahan di kolong tempat tidur dan masih tidak menyadari bahwa si ibu sudah tiada. Banyak hal lain lagi yang bisa dijadikan pelajaran dari film Pihu, diantaranya tentang bagaimana berkomunikasi dalam rumah tangga, psikologis ibu dan mendidik anak. Dari berbagai tingkah Pihu, terlihat bahwa sebenarnya Puja adalah ibu yang baik karena Pihu tumbuh menjadi anak yang penuh inisiatif dan pintar. Meski terlihat sedikit berlebihan untuk kemampuan anak di usia dua tahun, bagaimana Pihu bisa bertahan memenuhi kebutuhannya dan berkomunikasi dengan ayahnya melalui telephone adalah bukti bahwa mendidik anak lebih sekadar memberi makan namun juga perlu dalam hal peningkatan daya pikir, memberikan ketrampilan hidup dan juga perlindungan anak.

3 Komentar

  1. Aku belum nonton nih, banyak pelajaran yang bisa diambil dr fil ini ya. Tentang bagaimana mendidik anak, hubungan suami istri sampai kepedulian thd sekitar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, durasinya juga tidak terlalu panjang

      Hapus
  2. Aku baru tau film ni pas ada obrolan di wag, jadi penasaran si. Ntar deh pankapan nonton

    BalasHapus