Kilas Balik 2018: 5 Momen Terbaik Selama Setahun


Aku mengawali tahun 2018 dengan buruk. Kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih membuat canggung menjalani hari-hari. Meski bibir senantiasa tersenyum dan berusaha untuk bersikap baik-baik saja ketika berhadapan dengan orang lain, ada sisi rapuh yang mati-matian aku jaga. Dan akhirnya, akui tumbang.

Pertengahan tahun aku sempat menyerah. Sebagai orang yang “hidup” dengan internet dan media sosial, aku tak sanggup lagi bertahan. Personal branding yang menjadi adalan untuk mendapatkan penghasilan membuat aku lelah. Lelah karena aku harus menyajikan hal yang baik dan positif sedangkan fisik dan batin dalam kondisi tertekan. Opsi menutup akun dan mengganti nomer aku pilih untuk mengatasinya. Lebih tepatnya, melarikan diri dari kenyataan.

Suatu ketika, aku sempat bertanya pada salah satu kenalan tentang apa yang menjadi beban pikiran. Tidak secara gamblang, namun menggunakan perumpamaan. Beliau yang notabene lebih senior dan memiliki personality yang bagus menjawab, “Problem memang harus dihadapi. Problem selesai, kita naik kelas. Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita.”

Berbekal nasehat itu, aku mencoba bangkit kembali. Membangun pemikiran positif.  Menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri yang sempat hilang. Dan inilah yang aku dapatkan di separuh perjalanan tahun 2018 setelah terpuruk di awal-awal tahun.

1. Tim yang loyal dan perhatian
Salah satu yang pertama kali menyambangi ketika aku “menghilang” adalah tim dari reseller mukena. Ya, salah satu sumber penghasilanku adalah dengan menjadi distributor mukena. Ketika aku sampaikan bahwa aku sedang down dengan masalah yang aku hadapi dan takut berimbas mereka akan menilai negatif. Pemikiran yang paling konyol adalah lebih baik aku yang meninggalkan daripada ditinggalkan. Pemikiran ku ternyata salah, alih-alih meninggalkan, mereka menunjukkan bahwa mereka tak akan pernah peduli apa yang orang lain sampaikan berkaitan dengan masalah yang aku hadapi. Bagi mereka, aku adalah mitra yang menyenangkan dan mereka butuhkan. Mereka mendorong aku untuk tetap meneruskan hal baik yang aku lakukan bersama mereka dua tahun terakhir. Sungguh, ini adalah momen yang membuat kepercayaan diri kembali. Kini di tahun 2019, aku membuat konsep baru untuk penjualan mukena dengan merek Tawwa Hijab dengan harapan bisa merangkul lebih banyak lagi tim penjualan dan berkembang bersama mereka. 

2. Komunitas yang selaras
Aku memutuskan untuk bergabung di komunitas yang ada di dekat rumah. Penerimaan yang luar biasa menggembirakan membuat aku bahagia berada bersama mereka. Ada semangat baru setiap kali aku menghadiri pertemuan rutin setiap hari Jum’at. Bahkan, kemarin saat milad pertama komunitas kami berhasil menerbitkan buku. Proyek yang bisa selesai dalam waktu singkat dan bisa tercetak 100 eksemplar dalam waktu 2 minggu adalah hal yang patut dibanggakan bukan?

3. Pencapaian karir baru
Akhir tahun 2017 aku sempat mendapat tawaran dari salah seorang narasumber buku Csebelumnya  untuk menggarap buku biografi beliau. Tentu saja ini hal yang aku nanti-nantikan. Aku memiliki mimpi untuk menjadi penulis biografi setelah membaca karya Alberthiene Endah, salah satunya yang berjudul Mimpi Sejuta Dollar. It’s so inspiring. Bahkan aku sampai ikut kelas online penulisan biografi supaya memiliki bekal yang cukup untuk masuk dalam bidang tersebut. Sempat putus kontak karena aku menghilang, Alhamdulillah klien tidak berubah pikiran setelah aku hubungi kembali. Tepat tanggal 17 Oktober 2018, buku berhasil cetak 250 eksemplar sesuai target klien. 

4. Jejaring yang lebih luas
Semenjak lolos mengikuti kompetisi wirausaha sosial Sociopreneur Muda Indonesia (SOPREMA) yang diadakan Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 2016, aku jadi tertantang untuk mengikuti kegiatan serupa. Sempat merasa pesimis karena usia yang sudah mendekati kepala tiga sedangkan kriteria usia maksimal 30 tahun, Alhamdulillah aku bisa lolos mengikuti Akademi Kewirausaahan Masyarakat (AKM) yang diadakan Fisipol UGM selama 10 hari. Soprema UGM yang memasuki tahun ketiga pun berhasil aku ikuti dalam sesi yang berbeda, setiap tahun level dan pengalaman baru yang aku dapatkan. Menutup tahun 2018, aku mengikuti kegiatan pelatihan Wirabangsa yang diadakan oleh Kementrian PMK bekerjasama dengan IBEKA di Subang, Jawa Barat selama 8 hari. Digembleng oleh mentor-mentor yang ahli dibidangnya membuatku mendapatkan pemikiran baru, wawasan yang luas dan pertemanan yang luar biasa. 

Bersama salah satu "Angel" AKM, ibu Rika Fatimah (mentor)

5. Kolaborasi yang sehati
Seringkali gagasan tidak akan menjadi artinya jika tidak bisa diterima dan terealisasi. Aku menyimpan satu gagasan setelah mengikuti kegiatan mulai dari AKM, SOPREMA dan Wirabangsa. Gagasan itu sempat aku ikutkan dalam kompetisi yang diadakan Kapal Api dan masuk sebagai finalis. Hal tersebut cukup membuat aku yakin bahwa gagasan tersebut cukup menarik dan layak untuk dijalankan. Maka aku mulai menghubungi orang-orang yang sekiranya bisa diajak untuk merealisasikannya. Bermula dari satu, kini ada banyak dukungan yang datang untuk siap mewujudkan gagasan tersebut menjadi  hal yang nyata.

Mau berbagi kisahmu selama tahun 2018? 

0 Komentar