Sudahkah Kita Mendukung Kesehatan dan Kebahagiaan Anak dengan Pola Asuh Grow Happy?

“Adek tadi main sama siapa saja di sekolah?”, tanya ibu dengan antusias. Si anak yang sedang asyik bermain menjawab datar, “Lupa.” 

Di lain waktu anak datang bercerita dengan menggebu-gebu, “Ayah, tadi aku dapat hadiah lho di sekolah.”. Si ayah yang sedang khusyuk scroll timeline social media menjawab singkat, “Oh ya, bagus” dengan pandangan mata yang tak beralih dari benda kecil bernama smartphone.

Pernah dalam situasi diatas? Bisa ditebak kelanjutan komunikasi antara orang tua dengan anak akan berakhir dengan krik krik. Garing, hampa tidak berkesan. Momen yang seharusnya bisa menguatkan ikatan batin ayah ibu dengan anak menjadi terlewatkan. Anak bisa merasa bahwa ia kurang kasih sayang, tidak bahagia yang kemudian akan mempengaruhi masa depannya. 

Kebahagian adalah pondasi dari kehidupan, demikian yang disampaikan oleh Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC dalam workshop “Grow Happy Parenting: Happy from the Inside Out”. Psikolog yang akrab disapa Lizzie ini sempat melontarkan pertanyaan pada para peserta workshop, “Pilih punya anak yang pintar atau bahagia?”

Lizzie menyatakan bahwa kebahagiaan akan membentuk karakter anak saat dewasa. Anak yang kurang mendapat kebahagiaan saat kecil akan cenderung tumbuh sebagai seseorang yang temperamental dan emosional. Di sisi lain, anak yang bahagia juga lebih mudah memahami ilmu yang ia dapat. Oleh karenanya sangat mungkin anak yang bahagia juga akan menjadi anak pintar.

Lalu bagaimana cara membesarkan anak agar tumbuh bahagia? Ada 6 tips yang dibagikan oleh Lizzie, diantaranya:
1. Makan makanan bergizi tepat waktu
2. Waktu bermain dan eksplorasi
3. Ekspresi emosi positif
4. Cukup waktu tidur
5. Berikan cinta tanpa syarat
6. Antusias saat mendengar

Kebahagiaan anak juga dipengaruhi oleh kesehatan tubuhnya. Disaat sakit, sulit untuk membuat anak bahagia. Perhatiannya akan fokus pada rasa sakit yang dideritanya. Itulah mengapa penting untuk menjaga kesehatan anak.
Semua penyakit dimulai di dalam usus – Hipocrates
Didalam tubuh kita, ada sistem pertahanan tubuh terbesar yang berada di saluran pencernaan. Bahkan 60-70% sistem imun dihasilkan di usus yang memiliki luasan permukaan 300 m persegi, hampir sama dengan dua kali luasan lapangan tenis.  Untuk pencernaan yang sehat dan mampu penyerapan nutrisi yang baik diperlukan probiotik. Menurut Dokter Spesialis Anak Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(k), Lactobacillus reuteri merupakan salah satu jenis yang teruji klinis aman dan bermanfaat bagi tubuh. Pemberian probiotik dapat dilakukan melalui susu atau manajan yang difermentasi seperti tempe dan yoghurt.

Untuk mendukung tumbuh kembang anak Indonesia, Nestle LACTOGROW konsisten menghadirkan workshop tentang ilmu pola asuh yang baik dengan melibatkan para pakar dan juga menghadirkan susu yang dipercaya kalsium, 12 vitamin, minyak ikan, tujuh mineral dan omerga 3 & 6 serta mengandung probiotik Lactobacillus reuteri. Nestle LACTOGROW yang terdiri dari 3 varian rasa plain, madu dan vanila ini diformulasikan secara khusus oleh para ahli di Nestle Research Centre, Switzerland. Nestle S.A. merupakan produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang bergerak di bidang gizi, kesehatan dan keafitan sejak 150 tahun yang lalu, hadir di 189 negara, salah satunya di Indonesia, dengan 2000 merek dengan visi misi meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi untuk masa depan yang lebih sehat.

1 Komentar

  1. good post 😊 would you like to follow each other? if the answer is yes, please follow me on my blog & i'll follow you back. https://camdandusler.blogspot.com

    BalasHapus