Cerita Kelahiran Anak Pertama: Mengenal Persalinan Gentle Birth



Sebelumnya aku hanyalah seorang wanita dan istri yang mengafirmasi dirinya untuk hamil dan menjadi seorang ibu di tahun 2012. Tanpa persiapan apalagi perencanaan aneh-aneh tentang bagaimana nanti saat hamil, melahirkan dan pasca melahirkan. Hanyalah keinginan kuat dan kesiapan mental untuk hamil.

Berbekal pengetahuan tentang tanda-tanda kehamilan berupa morning sickness, nafsu makan meningkat, phobia dengan beberapa makanan favorit dan pastinya tamu bulanan yang belum juga datang, Aku melakukan test urine dengan testpack. Alhamdulillah…testpack menunjukkan dua strip yang menandakan bahwa aku hamil.

Rasa ingin tahu tentang seperti apa janin yang ada dalam kandungan mengantarkan aku menemukan kisah Gentle Birth alias persalinan alami Dewi Lestari (Dee). Kisah persalinan yang begitu indah lengkap dengan perbandingan antara kelahiran pertama Dee yang berlangsung caesar dan kelahiran kedua yang berlangsung secara alami. Kisah persalinan yang langsung memupuskan stigma tentang persalinan yang menyakitkan dan berdarah-darah seperti video persalinan yang pernah ditunjukkan oleh rekan yang berprofesi bidan.

Browsing tentang Gentle Birth menggiringku masuk dalam forum group facebook: Gentle Birth Untuk Semua (GBUS). Ternyata tidak hanya sekedar pasrah menunggu waktu kelahiran janin tapi ada begitu banyak hal yang harus diketahui dan dipersiapan untuk mendapatkan pengalaman persalinan yang minim trauma untuk ibu dan bayi.

9 bulan kehamilan berjalan tanpa keluhan yang berarti. Berbekal hasil pemeriksaan terakhir yang menyatakan semua dalam kondisi normal dan bagus, aku pulang kerumah orang tua untuk mencari nakes yang bisa mendukung prinsip Gentle Birth yang telah ku pelajari. Pertemuan pertama dengan diskusi dan tanya jawab yang kurasa cukup dengan bidan yang bersangkutan membuatku lega, beliau mau menfasilitasi persalinan sesuai dengan perencanaan.

Mentruasi terakhir tanggal 26 Januari 2012 memberikan perkiraan HPL 03 November 2012. Lewat satu hari semuanya masih baik-baik saja dan tidak ada perasaan khawatir karena aku percaya bahwa “Bayi punya waktu, dan cara sendiri untuk dilahirkan, just Trust Your body, Trust Your Baby” seperti yang disampaikan bidan Yesie A., penggagas dan admin group GBUS.

Mendadak semua perencanaan yang sudah siap buyar ketika periksa di HPL+3, bidan memberikan rujukan ke RS karena sudah lewat HPL dan keluarnya cairan bening sejak HPL+1. Mengkhawatirkan cairan yang keluar itu adalah cairan ketuban meskipun aku belum merasakan tanda-tanda kontraksi sama sekali, bidan menyarankan untuk caesar.

Beruntung ibu yang menemani periksa pun tidak langsung mengiyakan. Berbekal hasil VT yang menyatakan posisi kepala masih tinggi dan hasil pemeriksaan cairan dengan kertas lakmus yang menyatakan hasil negatif (sepulang dari periksa aku mengkonfirmasi hasil negatif pada kertas lakmus pada rekan rekan yang berprofesi bidan dan ternyata itu menandakan bukan cairan ketuban), aku tidak menggunakan rujukan dan menghubungi klinik Bidan Kita milik bidan Yesie untuk membuat janji konsultasi.

Cairan terus keluar meskipun sedang tidur sampai keesokan paginya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jadwal periksa pagi di BidanKita. Hasil pemeriksaan menunjukkan ketuban masih bagus, cukup dan utuh. Menurut orang Jawa, cairan yang keluar dari tubuh itu semacam “kembar banyu” atau secara ilmiah dijelaskan bidan Yesie bisa jadi itu cairan yang mengisi ruang diantara selaput luar ketuban. Kondisi untuk melakukan persalinan normal masih memungkinkan. Bidan Yesie menyarankan induksi dengan terapi akupuntur. Ya…terapi dengan menggunakan jarum-jarum yang ditusukkan dalam tubuh. Masya Allah, tidak ada rasa takut dan aku mendapatkan kenyamanan yang luar bisa saat terapi. Begitu pula dengan janin yang bergerak lembut selama terapi.

HPL+6. aku melewatkan hari dirumah dengan melakukan “goyang inul” dan minum jus nanas untuk induksi. Masih dengan mengeluarkan cairan yang sama dan belum ada kontraksi. Hingga malam pun tiba aku mulai merasakan kontraksi mulai pukul 00.30. Ternyata latihan pernafasan perut cukup membantu untuk mengurangi rasa yang muncul saat kontraksi yang saat itu berselang setengah jam sekali. Tanda itu muncul sampai subuh dan aku memutuskan untuk periksa.

Hasilnya? Baru pembukaan satu, itupun belum seberapa. Bidan Yesie memberikan suntikan untuk merangsang serviks membuka lebih cepat dan terapi dengan aromaterapi yang menghangatkan tubuh. Rasanya jauh lebih nyaman dan sayangnya ssetelah itu kontraksi hilang. aku pun memutuskan pulang berbekal tabel kontraksi untuk mengetahui jeda kontraksi nantinya.

Pukul 15.00, aku mulai merasakan kontraksi lagi. Kali ini dengan durasi antara 30 detik sampai lebih dari 1 menit dengan jeda kurang dari 5 menit. Hingga akhirnya pukul 19.00 WIB, akukembali periksa. Hasilnya masih pembukaan satu tapi kepala bayi sudah sangat turun. Aku memutuskan untuk menginap di Bidan Kita ditemani kedua orang tua. Semakin malam, kontraksi semakin kuat.

Pukul 01.00 kontraksi dengan dorangan ingin mengejan sudah aku rasakan namun masih pembukaan 5. Ternyata dorangan ingin mengejan itu karena aku belum BAB sehari sebelumnya. Akhirnya aku diberikan obat pencahar. Dibandingkan dengan rasa sakit kontraksi, mules perut terasa lebih menyiksa. Terlebih dengan saran untuk tidak mengejan selama pembersihan kotoran membuat aku hampir menyerah.

Bertahan sampai pukul 03.00 dini hari, hasil VT bidan Yesie mengatakan sudah bukaan lengkap dan aku bersiap di ruang bersalin ditemani suami. Lagi-lagi aku mendapati pengalaman baru. aku harus di tatur dengan menggunakan selang untuk mengeluarkan urine yang penuh di kandung kemih agar tidak menghambat jalan lahir.

Proses persalinan pun dimulai. Tanpa aba-aba dari bidan Yesie, aku memang merasakan sendiri dorongan untuk mengejan. Awalnya dengan posisi setengah duduk namun sampai satu jam belum ada perkembangan berarti. Bidan Yesie pun menyarankan untuk berganti posisi nungging, posisi nyaman saat mengalami kontraksi sebelumnya dan ternyata …WOW… dorongan mengejan menjadi lebih besar. Meskipun merasa sangat “primitif” (meminjam istilang Dee) dengan posisi nungging dan keringat bercucuran, aku sangat menikmatinya. 

Tidak sia-sia berganti posisi, kepala janin sudah mulai nampak hingga akhirnya bidan Yesie meminta untuk kembali ke posisi awal. Hanya berdasarkan dorongan yang kurasakan, melihat ukuran kepala yang mulai keluar dari kaca yang sengaja dipasang didepan ranjang persalinan sungguh dramatis dan memberikan semangat yang luar biasa. Semakin lama semakin besar dan akhirnya …putraku lahir normal hari Sabtu pagi pukul 05.45 tanggal 10 November 2012 dengan kondisi masih berselimut selaput ketuban utuh. Aku terrgugu saat malaikat kecil yang genap 9 bulan 10 hari dalam kandungan kini ada dalam dekapan.

Meskipun tidak berhasil IMD karena si bayi lebih tertarik dengan jari-jari tangannya dan mendapatkan 7 jahitan, aku sangat bersyukur bisa melahirkan normal dengan delayed burning cord. Terlebih lagi aku bisa dibantu oleh bidan Yesie, keinginan yang sempat muncul saat pertama kali bergabung di group GBUS mengingat lokasi Bidankita yang terletak di kota kelahiran , Klaten. Keinginan yang terwujud dengan proses yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Satu hal istimewa lainnya yang membuat kami adalah bayi yang menuruti afirmasi kami untuk lahir setelah tanggal 05 November 2012 mengingat kondisiku saat itu. Pernah pula kami meminta bayi untuk lahir antara tanggal 28 Oktober atau 10 November yang keduanya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Subhanallah, putraku memilih lahir tepat di hari Pahlawan dengan kombinasi tanggal yang cantik, 10-11-12 (10 November 2012).

Kelahiran Awan membuatku belajar bahwa pentingnya untuk memberdayakan diri, membekali diri dengan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi apapun yang akan dijalani. Bisa jadi aku mengalami proses persalinan yang “menyakitkan” atau bahkan dengan intervensi persalinan caesar jika tidak belajar tentang Gentle Birth dkk. Kehamilan bukanlah penyakit yang harus dihadapi dengan ketakutan dan kelahiran bisa menjadi pengalaman luar biasa yang minim trauma untuk kebaikan ibu dan anak. Begitupun dengan pengaruh kekuatan fikiran. Apa yang kita fikirkan itulah yang akan terjadi pada diri kita.

Kini Awan, demikianlah aku dan keluarga memanggil putra pertamaku, sudah menjelng usia 7 tahun. Semoga kelak putra pertama sekaligus cucu pertama untuk bapak ibuku ini bisa meneladani sosok Nabi Muhammad yang menjujung kebenaran dan berguna bagi orang-orang disekitarnya.

Terima kasih semua member forum GBUS, bidan Yesie, mbak  Widya dan mbak Ulya tim Bidan Kita.

12 Komentar

  1. Semoga sehat dan makin sholeh ya, Anak Lanang, aamiin. setiap pengalaman melahirkan itu memang tidak akan terlupakan ya setiap detiknya

    BalasHapus
  2. Subhanallah...turut merasakan bahagia mba saat akhirnya jagoan selamat di pelukan.. Semoga ananda Awan sehat selalu yaa..

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah kedua anakku lewat persalinan normal semua. Masing-masing punya kisahnya sendiri. Ada yang kontraksinya hingga setengah hari. Ada yang kontraksinya cepet banget ga sampai sejam dari bukaan 3 hingga bukaan sempurna, huaaahh sakitnya tak terperi :)) Semuanya terganti dengan rasa bahagia ketika buah hati hadir di depan mata.

    Afirmasi positif selalu ada, tapi bukan berarti ibu2 yang caesar itu tidak ingin melahirkan normal juga lhooo...

    BalasHapus
  4. Masyaallah kisah yang tak terlupa ya mbak aku juga waktu anak pertama 1*24 jam baru dia keluar nikmatnya kontraksi masyaAllah banget sekarang anaknya sudah umur 4,5 tahun..

    BalasHapus
  5. Ikutan bahagia, perjuangan tujuh tahun lalu, bisa menjadi inspirasi tambahan bagi para mama lain yang sedang menunggu proses lahiran.

    BalasHapus
  6. Aku nggak pernah melahirkan secara normal. Namun merasakan sakitnya kontraksi dan diinduksi selama 24 jam itu luar biasa banget waktu kehamilan pertama. Semoga Mas Awan jadi qurrota a'yun buat orang tuanya ya

    BalasHapus
  7. Dua kali hamil dua kali ga rezekinya bisa lahiran normal krn selalu ada masalah dgn kehamilan. Apapun caranya semua insyaallah dpt pahala dari Allah dan kita dimudahkan membesarkan anak2 kita jd anak shalih shalihah ya mom

    BalasHapus
  8. MasyaAllah :') Ikut bahagia ya, Mbak. Kalo denger cerita orang-orang tentang proses persalinan tuh bikin merinding, dan happy 💕

    BalasHapus
  9. Masya Allah, indah banget ya proses persalinannya, ditulis jadi kenangan indah yang nanti dibaca kembali..

    BalasHapus
  10. Selamat ya mba atas klhiran babynya, aku belum pernah hamil, bisa jd referensi nih

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah, nikmat banget ya melahirkan secara gentle itu...pas lahiran anak kedua, aku juga berhasil VBAC dan pakai metode gentle birth...

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah... Barakallah Mbak..
    Terharu aku baca kisah melahirkan ini. Memang perjuaangan seorang ibu itu luar biasa.

    BalasHapus